Jumat, 18 September 2015

Perjuanganku Untuk Menggapai Mimpiku


 

Cerpen Karangan: 
Lolos moderasi pada: 20 March 2015
Perjuanganku dimulai sejak masuknya XII. Kenapa?
Semenjak masuk SMA, tidak mempunyai pikiran sama sekali untuk kuliah. Sangat buta akan dunia perkuliahan. Bahkan, jurusan-jurusan yang ada di Universitas pun aku tak tahu. Tadinya aku ingin melanjutkan pendidikan ke SMK, tapi karena orangtuaku masih belum mengizinkan ku bersekolah jauh-jauh, akhirnya orangtuaku memilihkan untuk melanjutkan ke SMA.
Aku ini anak semata wayang. Dari SD, SMP, hingga SMA, aku bersekolah di Kecamatan yang sama. Bukan hanya itu, lulusan sekolah aku hampir 70 persen melanjutkan kerja. Dan mungkin 30 persen yang melanjutkan kuliah. Sempat terpikir olehku untuk melanjutkan kerja saja dahulu.
Aku berasal dari keluarga sederhana, dari mana orangtuaku membiayaiku untuk melanjutkan kuliah?, sungguh, itu pemikiran klasik. Pikiranku masih pendek sekali waktu itu. Tapi, niat dan pikiran itu terbantahkan oleh guru geografi. Di sela waktu belajar, saat itu masih kelas XI. dia pernah berkata “Kalian itu harus melanjutkan kuliah. Jangan tidak melanjutkan kuliah. Kalian jangan memikirkan masalah biaya terlebih dahulu, sekarang itu ada beasiswa yang namanya BidikMisi. Kalo kamu tidak mampu mempunyai biaya kuliah, kamu akan mendapatkan beasiswa asalkan kamu masuk Universitas tersebut. Tak hanya itu, kamu akan mendapatkan uang saku perbulannya”
Kata-kata pengantar nan sederhana itu, yang terus mengingatkanku agar aku harus tetap kuliah. Aku termasuk siswa yang aktif di sekolah kak jadi aku tak pernah berhenti untuk terus mencari informasi. Itu bekalku yang pertama yang menghantarkanku untuk meraih mimpiku.
Yang kedua, aku ini senag bermain Sosial Media juga. Banyak infomasi seputar kuliah yang aku dapat dari Sosial Media salah satunya dari @info_SNMPTN dan @infomasukPTN. Saat itu kakak kelas retweet tentang SNMPTN. Rasa penasaran muncul, dan akhirnya bekepo ria. Alhasil, aku tahu kalo SNMPTN ialah salah satu jalur seleksi masuk Perguruan Tinggi Negeri. Berbagai informasi telahku dapat. Dari kedua bekal tersebut, hati pun mulai bulat. Kalau aku harus melanjutkan kuliah!!
Tak terasa, waktu terus berjalan dan mengantarkanku memasuki pintu gerbang kelas XII. Orang bilang, pintu awal sebuah karier. Aku tidak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk memperbaiki nilai raport, di semester ini nilai raport harus maksimal, dan berharap agar bisa lolos SNMPTN (Jalur Undangan). Tersadar, bahwa nilai raport semester satu dan dua tidaklah bagus bahkan bisa dikatakan biasa aja. Walaupun ada sedikit rasa percaya diri karena di semester tiga dan empat menempati ranking 2 dan 1 di kelas, tapi hal itu tidak menjamin bisa lolosnya SNMPTN. Apalagi penilaian SNMPTN dilihat melalu berbagai aspek serta indeks sekolah.
Di awal semester 5 ini, aku mengikuti pelajaran dengan baik dan terus bersungguh-sungguh. Persiapan Ujian Nasional dan SBMPTN (Jalur Tes Tulis) ku tata agar se-seimbang mungkin. Saat itu, banyak teman-teman yang sudah mulai mnegikuti bimbingan belajar di luar sekolah untuk persiapan Ujian Nasional, karena di sekolah biasanya mengadakan bimbel persiapan Ujian Nasional di awal bulan November. Sempat minder karena banyak temen-temen yang mengikuti bimbingan belajar di luar sekolah, aku ingin seperti mereka agar persiapanku lebih matang menghadapi Ujian Nasional. Mencoba meminta brosur ke salah satu tempat bimbingan belajar, dan memberanikan diri untuk berkata kepada ibu, “mah, mau ikut bimbingan belajar persiapan Ujian Nasional di luar sekolah”.
Tapi… Apalah daya, ibuku tidak mengizinkan untuk mengikuti bimbingan belajar di luar sekolah. Memang, rincian biayanya cukup besar bagi kelurga kami. Dan akhirnya, keinginan itu hanya menjadi angan semata.
Berbagai rencana dan strategi ku tata sedemikian rapih untuk menghadapi Ujian Nasional dan SBMPTN. Aku membuat target, kalau bulan agustus ini, aku harus mempunyai buku latihan dan soal-soal SBMPTN. Aku selalu menyisihkan uang jajan sekolah untuk membeli buku itu. Tidak mau mererepotkan orangtua. Tapi, Uang yang ku kumpulkan tak pernah mencukupi untuk membeli buku itu, karena banyaknya tugas-tugas dari sekolah sehingga uang yang terkumpul dengan terpaksa aku gunakan. Aku tak pernah meminta uang kepada ibuku untuk mengerjakan tugas, kalaupun harus meminta itu jarang-jarang karena uang simpananku tak mencukupi.
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Bulan oktober pun tiba.
Alhamdulillah. Aku mendapat infomarsi, kalau FISIP UI mengadakan acara Try Out SBMTPN seJabodetabek dan Bandung. Kucoba untuk mengajak teman-temanku, tapi sayang. Respon mereka tak selalu bagus, ada yang bilang “yaelah ki, masih lama. Fokus UN aja dulu! Lebay lu ah” jleb deh. Ada yang mengabaikan perkataanku karena mereka memang tidak minat untuk melanjutkan kuliah. Tapi, aku respon dengan baik. Aku bilang kalau persiapan kita lebih lama pasti kan lebih matang.
Persiapan menjelang Try Out terus dilakukan, terus berlatih dengan buku yang baru ku beli itu. Aku latihan setiap pulang sekolah, dan sebelum tidur. Dan tetap menyisihkan uang untuk bisa mengikuti Try Out tersebut tanpa menambah beban orangtua. Enggan rasanya untuk menadahkan tangan, ketika aku sedang berjuang untuk membahagiakan mereka.
Waktu Try Out pun tiba, antara senang dan deg-degan bisa mengikuti Try Out tersebut. Banyak pengalaman yang didapat, semakin tahu bagaimana ketatnya persaingan SBMPTN nanti. Dan hasilnya? aku selalu bersyukur atas segala apa yang ku dapat. Berada di urutan ke 333 dari 1500 lebih peserta seJabodetabek dan Bandung. Temanku yang mengikuti Try Out juga ternyata hebat-hebat! Si K diperingkat ke 249. Si D peringkat ke 429, tetapi si A ada diperingkat 1300. Tapi hasil itu bukanlah suatu acuan, itu hanya seJabodetabek dan Bandung, bukan seNasional!
Dan… Bulan desember tiba.
Alhamdulillah, aku mendapat buku gratis latihan soal-soal SBMPTN dari kak Riris. Dia seorang mahasiswa di salah satu PTN di Jawa Barat, dia seorang motivator terutama untuk kelas XII. Selalu memberikan nasihat, bimbingan, dan pengalaman dia seputar SBMPTN. Banyak sekali ilmu yang didapat darinya. Sebelumnya, dia mengadakan kuis yang berhadiah buku latihan soal-soal SBMPTN. Dan aku berhasil memenangkan kuis tersebut dengan seorang perempuan asal Jember. Aku semakin percaya diri untuk menembus pintu gerbang PTN itu.
Di bulan ini juga, Alhamdulillah. Aku berhasil melukiskan senyuman terindah pada ibuku. Saat itu, hari ibu bertepatan dengan pembagian raport semester ganjil. Semua orangtua diundang ke sekolah, sebelum pembagian raport ada pengarahan dari Kepala Sekolah, semua orangtua dikumpulkan dalam satu tempat, dan dipenghujung acara tersebut, diumumkan siswa-siswi terbaik kelas dan jurusan.
Alhamdulillaah, Puji syukur. Aku mendapat predikat siswa tebaik di kelas, dan terbaik di XII IPS. Sungguh, tak menyangka akan hal ini. Senang rasanya, dipanggil untuk naik ke atas panggung dan mengambil piagam penghargaan bersama ibu tersayang.
Di hari ibu, aku bisa memberikan hadiah yang terbaik untuk ibuku. Dan saat itulah aku merasakan bahwa “Kerja Keras itu Tak Akan Mengkhianati”
Sesampainya sampai di rumah ibu berbicara padaku “pertahankan terus prestasimu nak! Ibu bangga kepadamu. Semangat terus untuk menggapai cita-cita mu. Kamu tak usah memikirkan biaya, ibu dan bapak akan berusaha terus mencari uang”
Aku diam tertegun, dan sedih.
Aku harus bisa menggapai mimpi-mimpiku. Aku harus bisa terus membuat orangtuaku bangga. Aku harus membuat mereka bahagia, sekarang dan sampai mereka tua nanti.
Tahun 2013 pun datang. Jeng jeng! *drum roll*
Persiapan dan persiapan terus dilakukan. Latihan soal, mengikuti Try Out di luar, doa dan ibadah terus dilakukan.
Di awal tahun ini, aku terus memotivasi diriku sendiri. Ku tulis semua mimpi-mimpiku di secarik kertas kecil lalu ku tempelkan di papan mimpi di kamar, agar di setiap bangun tidur, aku terus bersemangat untuk meraih mimpi-mimpi tersebut.
Berbagai quote yang ku dapat, aku salin lalu temple di papan mimpi.
Di awal tahun, antara bulan januari – februari. Aku masih seimbangkan amunisi untuk Ujian Nasional dan SBMPTN. Namun, memasuki bulan maret – april aku hanya fokus kepada persiapan Ujian Nasional. Kenapa? Karena saat itu aku mendapatkan informasi dari Kemdikbud kalau nilai Ujian Nasional menjadi tiket untuk masuk PTN (Jalur SNMPTN). Bagaimana ini? Akhirnya ku putuskan untuk fokus Ujian Nasional.
Ujian Nasional tiba.
Inilah perjuangan awalku untuk menggapai mimpi-mimpiku. Aku siap menghadapi Ujian Nasional, meskipun rasa deg-degan terus menyelimuti.
Banya godaan di Ujian Nasional sendiri, kunci misalnya. Tapi aku tak pernah tergiur. 20 paket soal. Ngapain? Mending fokus. Kalo Ujian Nasional ciut, bagaimana SBMPTN? Aku tetap berpegang teguh pada pendirian. Sia-sisalah perjuanganku salma ini kalau harus dinodai dengan sebuah kunci.
“UN itu bagaikan Cacing, dan SBMPTN itu bagaikan Ular”
Ujian Nasional berlalu, langsung move on. Aku langsung sigap berpaling kepada SBMPTN, karena sudah lama dia ku tinggalkan. Nah, disini. Setelah Ujian Nasional, kegalauan itu muncul lagi. Lagi, brosur-brosur bimbingan belajar persiapan SBM itu bertebaran dimana-mana. Banyak juga teman-temanku yang ikut bimbingan belajar. Aku iri, Aku juga ingin mengikuti bimbingan belajar seperti mereka. Aku coba memberanikan diri kembali untuk berbicara kepada ibu ku. Dan, seperti biasanya, orang tuaku tidak mengizinkan dengan alasannya seperti biasa.
“sekarang kamu coba belajar sendiri aja dulu nak. “lahaulawalla”. Ibu sama bapak ada uang juga untuk persiapan kamu ke Bandung. Belum ongkos, dan biaya hidupkamu disana.”
Sempat bingung.
Dalam perkataan itu, ada makna. Bahwa ibu percaya, kalau Aku pasti akan ke Bandung. Dan menuntut ilmu disana. Orangtua suka memikirkan apa yang tak pernah terpikirkan oleh ankanya.
Akhirnya, ku coba belajar sendiri. Dengan buku-buku soal yang ku punya. Sempat bosan, karena belajar sendiri itu tidaklah selalu menyenangkan. Apalagi disaat ada materi yang tak dimengerti.
Perasaan ingin mengikuti bimbel persiapan SBM itu pun muncul lagi. Aku berputar pikiran, bagaimana caranya aku harus bisa mengikuti bimbingan belajar tanpa membebani orangtua. Terbesit dalam hati, ingin menjual Hand Phone kesayangan untuk dijual dan uangnya untuk tambahan biaya bimbingan belajar. Tapi aku tak berani mengambil langkah itu begitu saja. Aku meminta izin terlebih dahulu pada ibu. Karena bagaimanapun handpone itu pemberian dia.
Sayang, ibu tak mengizinkan. Dia malah memarahiku.
Mungkin ibu kesal kepadaku, karena aku terlalu “memaksa”. Niat itu aku urungkan.
Aku terus belajar sendiri. Kenapa tidak meminta bantuan sama temanmu yang ngerti? Sudah ku coba, sebelumnya selalu meminta diajari dia. Bahkan sebelum masa-masa persiapan Ujian Nasional. Entah mungkin karena dia bosan. Setiap aku menghubungi dia, tak pernah dia merespon.
Perjuangan ini tak boleh berhenti sampai disini. Aku terus belajar sendiri. Aku harus bisa memahami materi-materi ini tanpa penjelasan dari orang lain. Tapi hanya dari buku ini sendiri. Alhamdulillah, materi demi materi pun mulai aku pahami. Allah selalu memberi kemudahan bagi hambanya yang mau berusaha.
Tapi, tak selalu materi ku pahami dengan baik. Matematika Dasar. Aku mengalami kesulitan di materi itu. Aku terus mancari cara. Aku coba untuk menghubungi guru matematika di sekolah, dan memintanya untuk mengajari ku. Awalnya, dia mengenakan tarif dan cukup besar harganya. Sambil becanda di sms, aku meminta diskon. Dan membujuknya sambil mambicarakan hal-hal ringan. Akhirnya dia mau mengajariku secara suka rela.
Setiap tiga hari dalam seminggu aku mengunjungi rumahnya, dengan waktu yang tidak ditentukan. Kadang dua hari seminggu, atau satu hari seminggu. Ya, aku bimbel mengikuti rutinitas dia. Kalau dia sempat dia mengajariku, kalau dia sibuk bagaimana lagi, aku harus kembali belajar sendiri.
Tak terasa pengumuman Ujian Nasional tiba, deg-degan dengan hasil yang akan kulihat.
Tapi apapun itu, itulah perjuangan dan kemampuanku. Nilai Ujian Nasional ku kecil.
Bingung, ini bagaimana? Tapi ya sudahlah. Semuanya sudah berlalu. Yang terpenting fokus pada cita-cita.
Jelang beberapa setelah pengumuman Ujian Nasional. Pengumuman SNMPTN tiba. Rasa deg-degan itu muncul lagi. Aku berharap aku bisa lolos seleksi ini. Antara percaya diri dan tidak.
Aku terus berdoa dan beribadah, aku mempunyai nazar. Aku harus khatam qur’an sebelum pengumuman.
Di tiap seminggu menuju pengumuman, beberapa hari lagi menuju pengumuman aku selalu bicara pada ibuku. Aku selalu minta doa dia.
Hari H pengumuman. Pengumuman itu dimajukan. Hari senin.
Saat itu aku diam di rumah dan terus berdoa, taaapiii. Temanku tiba-tiba datang ke rumah. Ngapain? Ya. Mereka mengajak main. Kemarinnya mereka memang sudah telpon aku. Tapi aku menolak ajakan itu. Entah kenapa tiba-tiba meraka datang ke rumah. Mereka bersikukuh mengajakku main. Aku tolak terus, bahkan kami sempat berdebat di rumahku.
Memang kami sudah lama tak bertemu, mereka mengajakku main bukan ke mall atau semacamnya. Mereka ngajakku ke tempat air terjun Mereka sudah berkuliah dan kerja, ada yang mau UTS esok harinya, dia bilang mau refreshing dulu katanya. Tapi tidak pas dengan kondisiku.
Bingung, mereka sudah ke rumah. Kalau aku tolak mereka, pasti perasaan mereka sangatlah tak nyaman.
Disaat pengumuman seperti ini, tidak mau membuat orang lain kesal kepadaku. Tapi aku tak mau bersenang-senang sebelum ada kepastian. Dengan berat hati, aku ikut dengan mereka.
Di sepanjang jalan dan di tempat tujuan, aku merasa tak tenang, terus merengek dan meminta pulang lebih cepat.
Akhirnya, kami pulang. Dan, hujan pun datang!. Kami basah kuyup. Sampai maghrib aku masih di perjalanan.
Sampai di rumah. Aku masuk angin, dan saat itu sedang shaum. Disaat kondisi badan seperti ini, belum melihat hasil pengumuman. Aku terus bicara pada ibuku, kalau aku deg-degan, lalu ibu menyuruhku untuk mandi, sholat, lalu makan dulu sebelum melihat hasil pengumuman. Nazarku sudah terpenuhi. Alhamdulillah aku sudah khatam sebelum pengumuman.
Setelah semuanya selesai. Aku duduk di ruang tengah, bersiap-siap untuk melihat pengumuman. Dan ingin segera membalas sms teman-teman yang menanyakan lolos atau tidak.
Mulai membuka hasil pengumuman..
Bismillah..
Seketika tulisan kata “MAAF” dalam kotak merah itu muncul. Diam tepaku.
“oki gagal bu”. Masih diam menatap layar itu.
Tiba-tiba, ibuku merangkulku, dia menangis dan memelukku. “ya sudah, kamu harus sabar, ini yang tebaik untuk kamu. Ibu selalu melihat usaha-usaha mu, tapi kali ini bukan rezeki mu”
dengan nada yang tesedu-sedu itu, ibu berbicara padaku sambil memelukku.
Hanya bisa terdiam, seketika air mata ikut mengalir. Tak tahan melihat ibu sedih, tak tahan melihat ibu mengangis.
“Yaelah, ngapain dibawa sedih. Udah gak usah nangis. Perjalanan masih panjang”. Celetuk bibi.
Tak mau berlarut-larut terus dalam kesedihan. Harus terus berjuang untuk meraih cita-citaku, kembali fokus untuk mempersiapkan diri menghadapi SBMPTN. Karena gagal dalam SNMPTN bukanlah akhir dari segalanya!. Allah ingin melihat kerja kerasku yang lebih. Aku terus membuat perubahan. Waktu belajar ku tambah lagi dan lebih ekstra, serta doa dan ibadah harus dan perbanyakku lakukan.
Dan…
Pengumuman SBMPTN pun tiba. Jeng-jeng! *drum roll*
Di pengumuman ini, aku tidak lagi melakukan apa yang pernah ku lakukan disaat menjelang pengumuman SNMPTN. Karena ku yakin, kalau ingin mendapatkan hasil yang beda. Kita harus melakukan hal yang berbeda.
Aku tak selalu bicara pada ibuku lagi “bu, 1 minggu lagi pengumuman. Deg-gedan ni” “bu, 1 hari lagi pengumuman. Deg-gedan”. Tidak! Ku coba pendam rasa ini dalam hati, dan menenangkannya sendiri. Kalau terus bicara pada ibuku, pasti beban pikiran ibu bertambah. Aku ini kan niatnya ingin membuat dia bahagia.
Lalu, mirip hampir mirip, lagi temanku mengajakku ke mall. Meminta antar untuk membeli jam katanya, tapi untuk yang ini ku tolak dengan biak-baik.
Dan, beberapa jam menuju pengumuman. Ibu minta anter ke pasar, sore waktu itu.
Aku mengantarkan ibuku terlebih dahulu, twitter sudah ramai kalau pengumuman sudah bisa di akses. Bunyi sms juga mulai datang satu-persatu menanyakan hasil penngumuman.
Sempat ingin buka pengumuman di pasar, tapi. Ah! Kondisinya tak enak. Masa buka pengumaman di pasar
Sesampainya di rumah, langsung bersiap-siap.
Sudah berada di depan layar sendiri, ibu di kamar mandi sedang mencuci, bibi belum pulang kerja, sama bapak juga.
Dengan rasa deg-degan, dan bismillah, ku buka web itu.
Dan…
Segala Puji Bagi Alla.Tulisan “SELAMAT” itu muncul di kotak berwarna biru, bukan kotak berwarna merah lagi.
Seketika itu aku langsung diam, tak percaya, aku langsung berteriak pada ibuku yang di kamar mandi “bu, aku lolos bu. Aku lolos” dan air mata itu, mengalir dengan sendirinya keluar.
Aku langsung menghampiri ibu ke kamar mandi. Ibu kaget mungkin, melihatku menangis sambil berkata yang kurang jelas. Tapi akhirnya ibu mengerti kalau aku lolos SBMPTN. Pendidikan Sosiologi – Universitas Penididikan Indonesia.
Aku langsung merangkul ibuku, dengan penuh air kebahagiaan.
“iya Alhamdulillah, ibu seneng mendengarnya”.
“iya bu, Alhamdulillah usahaku selama ini tidak sia-sia bu”
“iya, kamu bangun setiap pagi, puasa, pasti kamu mempunyai maksud, Allah mendengarkan doamu nak”
Peristiwa itu, takkan pernah terlupakan.
Yang tadinya ibu merangkulku disaat ku gagal. Kini aku merangkul ibuku disaat aku berhasil.
Cerpen Karangan: Oki Anggara
Blog: http://okianggara.blogspot.com

Perjuangan Hidupku Dalam Menuntut Ilmu


 

Cerpen Karangan: 
Lolos moderasi pada: 21 February 2014
Perkenalkan nama saya supardin, biasa disapa adin saya anak pertama dari lima bersaudara. Saya lahir dari keluarga yang sangat sederhana, walaupun demikian saya memiliki motivasi yang sangat besar dalam hal dunia pendidikan. perjuangan saya bisa dikatakan sangat ekstrim, dan penuh tantangan bukan berati perjuangan saya menjadi pupus, justru hal tersebut yang membuat saya kian semangat.
Kepahitan itu kian membuat kehidupan keluarga ku terpukul, setelah ayah ku pergi meninggalkan kami semua, tentu semua tanggung jawab dibebankan kepada ibu. Mengingat usia kami yang masih sangat kecil dan masih membutuhkan kasih sayang.
Seiring berjalanya waktu dan usiaku pun kian bertambah, kini aku berumur 7 tahun tentu di umur seperti itu sudah selayaknya aku harus mulai masuk dunia pendidikan sekolah dasar, melihat kehidupan keluarga yang kian memburuk membuat ku kian giat menuntut ilmu. Demi satu tujuan yaitu ingin membahagiakan ibu ku.
Waktu terus bergulir dan kini aku pun naik ke kelas dua sekolah dasar. Tentu biaya kian tahun makin bertambah, maklum pada saat itu belum ada program wajib belajar Sembilan tahun. ibu ku pun kian semakin kesulitan untuk membiayaiku. Bahkan sempat terdengar di telingaku perkataan ibu ku yang menginginkan agar aku berhenti sekolah, karena tak sanggup lagi dengan biaya yang semakin bertambah, hal terebut tentu membuatku kian terpukul.
Senada ibu pun mngatakan “Nak… maafkan ketidaksanggupan ibu dalam mengurus kamu, ibu rasa perjuangan mu untuk menimba ilmu cukup sampai disini, ibu tidak memiliki apa-apa sekarang. Jadi maafkan ibu”.
Mendengar hal tersebut membuat ku terhenyak sejenak, terlintas di pikiran ku akankah semua ini akan berakhir..?
Mendengar hal tersebut tentu membuat sanak keluarga ku merasa empati kepada keadaan ku, merasa tidak ingin aku putus sekolah aku pun dibawa keluar kota. tante NAFSIA lah yang membawa ku dan membiayai semua kebutuhan ku. Meski demikian bukan berati aku bisa bersantai, maklum sebaik-baiknya seorang tante tidak lah lebih baik dari seorang ibu.
Hari yang dinantikan pun tiba, tepatnya pada tanggal 22 november 1997 aku didaftarkan di SDN REO II. Sebuah sekolah dasar negeri yang berada di kecamatan REOK dan berkabupaten MANGGARAI, hari pun telah berganti waktu terus bergulir aku mulai masuk sekolah di hari pertama ku di sekolah baru. Rasa gembira pun terpancar di raut wajah ku, menggingat aku dapat melanjutkan sekolah ku.
Lonceng sekolah pun berbunyi menandakan waktu pelajaran usai, aku pun berkemas dan bergegas meninggalkan ruangan, untuk segera pulang bersama teman baru ku.
Sesampai di rumah akupun langsung di suguhkan dengan sebuah baskom kecil yang berisikan kue lemet.
“Din hari ini kamu mulai berjualan kue, ini kuenya dan skarang juga kamu mulai berjualan”
“tapi tante saya kan belum makan, bisa kah saya berjualan setelah makan..?”
“oh.. tentu silakan .. tapi jangan lama ya.. makannya..”
“ia tante..”
Setelah makan aku pun bergegas untuk berjualan, langkah demi langkah aku menatih kan kaki ku, bersuara kan merdu bertedu kan mata hari yang cukup panas, soalnya aku berjualan tepat pada pukul 14:00 tentu cuaca masih panas.. badan bercucuran keringat dan aku pun mulai bersuara lantang.
“Bu, Kue.. kue.. bu kue bu..”
Waktu pu kian semakin sore, kue pun semua habis, dengan hati yang amat senang aku pun bergegas untuk pulang. Dan memberikan semua uang hasil jualan ku hari ini kepada tante ku.. itulah kegiatan sehari-hari ku setelah sepulang sekolah..
Waktu bergulir sangat cepat dan sekarang aku sudah lulus dan ingin melanjutkan pendidikan ku ketingkat SLTP, aku pun mulai mendaftarkan diri hati ku pun kian bertambah senang dapat melanjutkan sekolah.. dengan semangat aku kian giat belajar, agar dapat naik kelas alhasil usaha ku rupanya tak sia-sia, aku dapat naik ke kelas berikutnya, sampai akhirnya lulus pada tahun 2005 dan mendapat kan nilai yang sangat memuaskan.
Setelah lulus SLTP, aku pun ingin melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi. Tapi sayang harapan itu hampir sirna akibat tante ku tak dapat melanjutkan ku ke tingkat SMA, dikarenakan suaminya mengalami kecelakaan kerja dan harus membutuh kan biaya yang cukup banyak untuk keperluan pengobatan Dan lain lain.
Aku pun kembali di belit cobaan yang amat berat, dengan hati yang amat sedih aku pun menerima dengan hati yang lapang. Dalam hati kecil terucap akankah ini semua akan berahir sampai disini..?
Karena keadaan yang tidak memungkinkan lagi untuk melanjutkan sekolah aku pun kembali ke kampung halaman ku. Setelah di kampung akupun mulai memikirkan bagaimana caranya agar aku dapat melanjutkan pendidikanku. Sebab aku memiliki impian yang sangat besar dalam dunia pendidikan. Karena merasa iBu ku sudah tak sanggup lagi membiayai ku. Aku pun mulai meencari pekerjaan, apapun itu yang terpenting aku dapat bersekolah kembali..
Cerpen Karangan: Supardin

Untukmu Ibu


 

Cerpen Karangan: 
Lolos moderasi pada: 12 June 2015
Adzan subuh berkumandang dari mikrofon masjid. Suara sang muadzin begitu merdu meliuk-liuk di pagi yang masih basah. Belum terdengar kokok ayam. tapi ibu sudah membangunkan ku seperti biasanya untuk menunaikan ibadah kepada sang Maha Pencipta. Dengan tergopoh-gopoh aku berjalan sempoyongan menuju keran yang hanya berjarak beberapa meter dari kamarku. Air masih seperti es yang baru meleleh menusuk-nusuk permukaan kulitku. Lalu setelah semuanya aku tunaikan barulah aku beranjak menuju dapur.
Dapur ibuku hanya sebuah ruangan sempit yang tak lebih besar dari kamar tidurku. Ada sebuah tungku api untuk memasak air dan satu buah kompor minyak tanah untuk memasak lauk-pauk.. di sisi sebelah kiri piring-piring berjejer rapi serta gelas-gelas tertancap kuat pada rak besi. Lalu di dinding yang setengahnya hanya terbuat dari kayu menepel dua panci dengan ukuran berbeda, satu buah wajan dan satu buah nampan bundar. Di tengah langit-langit rumah tergantun bohlam yang hanya memberikan cahaya kuning sekedarnya. Di sinilah ibuku membuat kue-kue tradisionalnya untuk kemudian ia jajakan di pasar.
Ibu pun memulai kegiatan rutinnya. Mula-mula ia mengambil semangkuk besar tepung beras yang ia taruh dalam wadah cekung, kemudian ia menambahkan 3 gelas air dan satu sendok garam, sembari tangannya mengaduk-aduk dengan menggunakan sendok kayu. Setelah semuanya tercampur rata barulah ia membentuk satu persatu menjadi bulatan yang kemudian ia pipihkan dan ia goreng. Bila telah matang maka ia akan mencelupkan pada mangkuk yang sudah berisi gula aren yang telah dilarutkan. Kemudian untuk kue kedua kali ini ia menggunakan tepung terigu yang dicampur dengan air gula dan santan. Setelah tercampur rata adonan tersebut ia bentuk kotak dan pada bagian tengahnya ia sisipkan pisang manis yang sudah dipotong memanjang lalu ia membungkusnya dengan daun pisang untuk kemudian ia kukus. Dari kesemua tahapan yang ibu lakukan, tugasku hanyalah satu. Membantu memasukkan kue-kue yang telah jadi ke dalam keranjang kemudian menhitung jumlahnya.
Pekerjaan ini telah dilakoninya 15 tahun yang lalu pasca ia ditinggal mati oleh suaminya. Satu rumah kecil, satu anak perempun dan beberapa ratus ribu uang pesangon menajdi warisan terakhir yang ia terima, disamping status Janda yang masih disandangnya hingga kini. Aku masih sangat kecil saat itu. Usiaku baru 7 tahun dan baru saja memulai memakai seragam merah putiih.
Pagi mulai menampakkan wujudnya. Sinar-sinar putih mulai meringsek masuk melalui cela-cela dinding. Ciut-ciut burung kutilang di luar sana bernyanyi begitu girang. Suara-suara kehidupan mulai timbul satu persatu. Ibu telah selesai menyelesaikan pekerjaan dan aku pun demikian. 100 biji kue telah aku atur sejajar seperti barisan prajurit dalam 2 keranjang. Tepat pukul 07:00 ibu telah bersiap-siap berangkat. Matahari masih terasa hangat. Ibu memelukku erat lalu kemudian pamit dan segera naik ke becak langgananya. Di ambang pintu mataku mengawal kepergian ibu sampai sosoknya tak terlihat.
“Harapan adalah salah satu hal yang terindah yang pernah kita miliki. Tanpa harapan hidup akan kosong.” Begitulah salah satu ungkapan yang pernah aku baca. Bagi ibuku, aku adalah satu-satunya harapan dalam hidup. Ia rela berdamai dengan takdir. Ia kukuh bertahan dari sekelumit peesoaln hidup dan penderitaan yang menggerogotinya. Memulai paginya di dapur yang sempit berasap dan menghabiskan siang dan sorenya di pasar lapang yang beraroma aneh. Namun ia jalani dengan penuh ketabahan semata-mata demi memenuhi kebutuhan kami berdua. Dari hasil penjualannya setiap hari selalu ia sisihkan untuk menyetor pada tempatku menimba ilmu. Selebihnya cukuplah untuk mengganjal perut kami dua kali sehari.
Satu ketika aku menungguinya di ambang pintu. Adzan mghrib telah lewat langit juga sudah mulai pucat. Jalan-jalan mulai lengang, tapi ia belum juga terlihat. Rasa was-was mulai menyelimutiku. Sesekali aku mondar-mandir untuk meredam sedikit kegelisahaanku. Tapi hingga larut ia belum juga kembali. Akhirnya aku memutuskan untuk menyusul ia ke pasar. Tapi saat aku tiba di sana tak ada satuu pun kios yang masih terbuka.. Semua telah ditinggal pemiliknya. Aku berjalan menyusuri jalanan yang sempit dan agak becek. Langkaku pelan dan mataku menjelajah setiap lorong-lorong pasar, tapi tetap tak ku temui sosok ibuku. Setelah lelah mencari aku kemudian menayakan keberadaan ibuku pada warga yang bermukim di sana. Dari informasi yang aku dapat ibuku saat ini berada di pasar malam dekat pinggiran kota.
Saat itu aku memilih berjalan kaki. Satu kilometer adalah jarak yang harus kutempuh. Sedangkan malam semakin merambat. Jalanan mulai lengang. Angin mengendus-endus melalui cela ranting pepohonan. Jengkrik berjingkrak-jingkrak sambil bersautan. Kelap kelip lampu jalan kujadikan penerang. Sesekali lampu kendaraan meyorot tubuhku dari belakang kemudian akan melaju kencang dan hilang di balik tikungan. Aku mengayuh langkahku lebih cepat agar segera sampai di tujuan.
Dari arah kejauhan cahaya-cahaya berserakan. Komedi putar berputar-putar. Jeritan suara-suara sumbang semakin lama kini semakin nyaring. Bianglala telah dinaikkan pada ketinggian tertentu. Lalu yang kurasakan keheningan tiba-tiba sirna. Aku menarik nafas panjang dan menghembuskan pelan-pelan. Ada sesuatu yang tercekat di tenggorokan leherku.
Aku telah tiba. Suasana terang benderang. Anak-anak berlarian kesana kemari. Para muda-mudi tertawa genit. Di setiap tempat permainan berjubel antrian panjang.. Pedagang-pedagang berteriak-teriak dengan suara lantang. Dan aku menagkap sosoknya. dia duduk di bangku kayu tak jauh dari tempat ku berdiri. Matanya memperhatikan setiap orang yang berlalu lalang. Suaranya yang lemah sesekali terdengar “kue-kue”. Namun usahanya tak terbalas, tak ada satu pun orang yang menoleh ataupun sekedar singgah menayakan barang dagangannya. Sesekali ia membuka keranjang kuenya yang masih terisi penuh. wajahnya tampak lesu, sinar matanya redup, tubuh ringkihnya lemah.
Pandangaku nanar. Ada perasaan menjarah ku seketika. Dadaku terasa sesak. Air mata yang sejak tadi bersembunyi di kedua bola mataku kini meronta-ronta ingin keluar. Satu persatu bercucuran tanpa bisa ku bendung. Pipiku basah mataku memerah Aku terisak menahan tangis yang semakin menjadi.
Beberapa tarikan nafas kuambil. Saat ku rasa jauh lebih tenang aku mulai menghampirinya. Wajahnya sedikit terkejut saat melihatku. Lalu air mataku kembali terurai.. Kini semakin deras. Aku memeluknya erat-erat dan tangisku semakin tak terbendung. Kurasakan tangan lemahnya mengusap punggungku. Seperti mengerti maksud kedatanganku dia pun segera bangkit dari duduknya dan menggiring ku pulang. Kami pulang melewati jalan yang tadi aku lalui. Aku membawa keranjang kuenya dan ia merangkul tanganku. Kelap kelip lampu jalan masih jadi penerang. Jengkrik masih asyik berjingkrak-jingkrak. Lalu di belakangku cahaya pasar malam perlahan-lahan meredup.
Malam itu kami memilih tidur bersama. Kami saling berhadapan. Lampu di langit-langit rumah menghadiahkan kami cahaya kuning. Malam belum beranjak meninggalkan kami. Sesekali terdengar burung gagak dari kejauhan Ibu mengusap rambutku dengan lembut. Saat-saat seperti ini biasanya ia menceritakan padaku kisah Para Nabi dan Rasul yang penuh hikmah dan pelajaran. Sampai katup mata ku tertutup rapat, ia terlelap dan malam menjemput pagi.
Tubuhnaya kini tak sekuat dulu. Keriput-keriput halus mulai bermunculan di wajahnya. Usianya juga mulai memasuki gerbang senja. Namun semangatnya masih seperti api yang berkobar-kobar. Tak pernah sekalipun kata mengeluh meluncur dari mulutnya, meskipun aku seringkali membebaninya dengan biaya pendidikan yang tinggi. Aku ingat ia pernah mengatakan padaku. “Carilah ilmu selagi kau bisa nak, karena itulah satu-satunya harta yang tidak pernah akan hilang, dirampas orang ataupun di curi. Dan tetaplah berada di jalan lurus dan benar maka kebagiaan akan datang padamu”.
Kata-kata itu selalu terngiang-ngiang di telingaku. Merangsang kinerja otakku untuk terus menimba ilmu dari tahun ketahun. Menumbukan kepercayaan diriku. Dia adalah sumber inspirasi terbesar dalam hidupku. Dia adalah Malaikat nyata yang dikirim oleh Sang Pencipta untukku. Saat itulah aku tanamkan janji dalam hatiku. Untuk kelak menjadi orang yang berhasil dalam hidup dan akan membahagiakan dirinya.
Hari yang ditunggu-tunggu oleh ibuku tiba. Dia memakai pakaian terbaiknya. Kebaya berwarna putih yang ia padukan dengan rok cokelat bercorak batik. Meskipun terlihat sedikit kuno tapi ibu terlihat anggun memakainya. Rambutnya ia sanggul tinggi dan ia selipkan jepitan di kanan kirinya. Bedak mencerahkan wajahnya. Gincu memerahkan bibirnya. Pensil mata menajamkan tatapannya. Dan Aroma wangi menguap dari tubuhnya. Sedangkan aku mengenakan baju toga dengan dandanan sedikit menor. Kami menaiki becak langganan ibuku. Udara sangat cerah. Angin bertiup pada garisnya dan matahari tertawa-tawa riang. Di sepanjang jalan senyum ibu tak pernah luntur dari wajahnya. Sesekali ia merapikan sanggulnya dan menambah polesan bedaknya.
Kami telah tiba di dalam gedung yang mulai disesaki manusia. Aku menuntun ibuku ke tempat tamu undangan, Lalu aku berbaur bersama para calon Sarjana Muda. Pambawa acara membuka acara. Ia mempersilahkan para pengajar memberikan kata sambutan. Setelah itu, ia memanggil saru persatu nama kami untuk kemudian melakukan penobatan titel. Kami dihadiahi sebuah kertas yang digulung memanjang berisi sertifikat kelulusan dan yang bewenang dipersilahkan menggeser tali dari topi kami. Setelah prosesi sebagaimana mestinya telah dilakukan, kami kembali pada tempat duduk semula dan menunggu hingga acara berakhir.
ibu telah menungguku di depan gedung. Senyumnya mengembang, Matanya berkaca-kaca. Ia membelai pipiku dengan lembut dan mengucapkan selamat untukku. Kali ini aku kembali memeluknya. Air mata kebahagiaan menetes begitu saja tanpa kuduga. Juru foto menghampiri kami berdua. Dan senyum kami melebar saat kilatan kamera.
“Ini adalah hadiah untuk mu ibu”
Cerpen Karangan: Trimurti
Facebook: Trimurti Ramdhan